Membangun Kawasan Transmigrasi Pancasilais

Prof. Dr. Suratman, M.Sc.

Lahir di Klaten, Jawa tengah pada Juni 1954, Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini merasa sangat bangga sebagai orang desa. Sumbangsihnya kepada desa diwujudkan dengan memutuskan untuk kembali ke desa kelahirannya dan menerapkan konsep jitunya dalam upaya percepatan pembangunan desa.

Setelah melahirkan desapolitan yang disambut baik oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo saat itu, kini Prof. Dr. Suratman, M.Sc.  yang masih aktif mengajar di Fakultas Geografi kembali melahirkan konsep Transpolitan sebagai sebuah inovasi baru pengembangan kawasan transmigrasi masa depan.

Untuk mengenal gagasan tentang Transpolitan yang kini gencar disosialisasikan oleh Kemendes PDTT melalui Direktorat Jenderal Penyiapan Kawasan Dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi (PKP2Trans) khususnya Direktorat Perencanaan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (P3KT), tim Redaksi TRANSPOLITAN melakukan wawancara dengan Prof. Suratman. Berikut petikannya:

TRANSPOLITAN (TP) : Dari dua warisan konsep yang diberikan kepada Kemendes yaitu Desapolitan dan Transpolitan, bagaimana proses kelahirannya?

Prof. Suratman (PS): Jadi ya tugas perguruan tinggi itu kan melahirkan inovasi-inovasi, membangun teori, membangun konsep inovatif itu salah satu kewajiban seorang guru besar. Kami bermula dari kenapa sih desa itu lambat, maju, kalau maju sendiri-sendiri nanti terjadi persaingan. Sehingga kami mencoba untuk membranding konsep baru yaitu dengan desapolitan sebagai suatu kawasan. Jadi kita itu paling efisien negara ini adalah bila pendekatan kawasan menjadi bagian dari percepatan pembangunan berkeadilan, itu prinsipnya. Nah, senada dengan desapolitan yang kita sudah terapkan di Klaten diresmikan oleh Pak Menteri, Pak Eko waktu itu dengan Ibu Bupati, itu prinsipnya gotong-royong dan sesuai dengan visi-misi Pak Jokowi. Semuanya berkontribusi baik akademisi, komunitas, pemerintah, investor, media, media selalu menyampaikan berita-berita pembangunan desapolitan.

TP : Apakah ada pemicunya?

PS : Kami terhentak sewaktu ada peristiwa Palu, itu gempa dan tsunami, saya dapat tugas membantu Mas Direktur, Mas Bambang untuk merelokasi, me-resettlement bencana di Palu, saya tinjau disana, ini kan percepatan sekali, planningnya, pembangunannya itu tidak boleh lebih dari 1 tahun, mungkin 6 bulan sudah pindah. Dari situ saya berfikir, wah politan ini, terus saya sampaikan di forum paparan Sigi, saya tawarkan Pak Direktur ini transmigrasi kelihatannya harus membangun inovasi baru, konsep baru agar perencanaan lebih efektif, efisien, dan cepat diimplementasikan, saya sebut dengan Transpolitan. Why? Kenapa Transpolitan? Polit itu artinya ene activite, semua aktivitas yang itu akan membangun planning, vision, purpose, and outcome, itu. Jadi semua itu fokus ya, fokus mengikuti perencanaan, fokus implementasi, fokus mencapai keberhasilan, sampai ke bentuk tadi holistic, integratif, thematic spatial, ternyata sekarang terjadi. Saya sudah berfikir ternyata Bappenas baru ‘HITS’ (Holistik, Integratif, Terpadu dan Spasial), oh ini kami sudah lakukan, baru keluar teori ‘HITS’. Sebenarnya kapan sih lahirnya Transpolitan itu? Ya dari peristiwa Palu, saya kesana berfikir, wah kalau seperti ini, ini akan membuat pola baru pembangunan transmigrasi, pola baru, pendekatan baru ya, metode-metode inovasinya mulai dari e-planning, e-budgeting, e-monitoring, e-reporting ini menjadi bagian dari gerak Transpolitan.

Itu riwayatnya awalnya seperti itu. Nah ternyata direspon oleh kementerian ini melalui serial FGD, FGD, FGD, nah itulah saya lahirkan Transpolitan. Hadirlah di situ ada Dirjen, staf menteri, direktur, lengkap, saya kaget, saya surprise dengan cepatnya para pimpinan di sini merespons pendapat kami tentang Transpolitan. Terus terang saya apresiasi, saya tidak menduga level menteri, wakil presiden juga siap. Jadi ini mungkin karena petunjuk Allah juga, jalan terang benderang dan Transpolitan adalah it’s new for Indonesia after Soekarno-Hatta. Ini era babak baru Indonesia mensikapi transmigrasi mati hidup Indonesia, ini era baru. Bukan era penjajahan, bukan era orde lama, ini it’s new era, betul-betul new era.

TP : Bedanya apa Prof. dengan yang lama?

PS : Ya beda, betul-betul bahwa Transpolitan dijamin bahwa ini landasan budaya bangsa, ini mempererat persatuan bangsa, ini adalah pembangunan Pancasilais, catat itu, Pancasilais. Ini pembangunan nasionalisme, karena apa? Semuanya dilibatkan sejak perencanaan, sejak membangun persepsi, implementasi, sampai memetik hasilnya. Hai investor dapat apa? Wah saya diberi kemudahan diberikan izin, saya diberi untuk mengelola lahan. Hai masyarakat tani, dapat apa? Oh saya diberi inovasi bibit, inovasi olah produk sampai packaging, oh saya diberi untuk marketing, digital. Nah pemerintah dapat apa? Oh saya dapat PAD-nya (Pendapatan Asli Daerah) juga. Perguruan Tinggi dapat apa? Terus saya ada majalah ‘Scopus” (Karya ilmiah di jurnal internasional yang diusulkan dalam kenaikan jabatan akan di periksa apakah terindeks di laman Thomson ISI Knowledge atau di Scopus) untuk naik pangkat, librarian (pustakawan) saya berkembang, murid-murid saya tahu tentang konsep Transpolitan, skripsinya, thesisnya, desertasinya. Jadi semua memanen, itu yang saya harapakan, semuanya memanen tahu ya? Semuanya mendapatkan keberuntungan, benefit, itu ciri-ciri pembangunan berbasis Pancasila, Transpolitan ‘TSTP’ (Trans-Science Techno Park) itulah new era ya.(*)