Hari Bhakti Transmigrasi dan Kisah di Baliknya

Transmigrasi yang sukses dilaksanakan pemerintah sejak 1950 menyimpan banyak kisah pilu dan heroik. Tahukah Anda Hari Bhakti Transmigrasi (HBT) yang diperingati setiap tahun menjadi pengingat para pejuang keluarga yang berusaha mengubah hari esok menjadi lebih baik.

Peringatan HBT digelar setiap tanggal 12 Desember. Tahun 2019 lalu, HBT memasuki tahun ke-69. Mengusung tema “Transmigrasi Kerja Nyata Membangun Bangsa”. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memperingatinya dengan sejumlah kegiatan. Antara lain upacara dan Ziarah Tabur Bunga Pionir Transmigran di Sukra, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Ada pun  puncak peringatan dihelat di halaman kantor Bupati Bulungan Provinsi Kalimantan Utara yang merupakan salah satu lokasi Transmigrasi yang kini sukses dikembangkan sebagai Kota Terpadu Mandiri (KTM).

Beberapa acara dirangkai untuk menyemarakkan peringatan HBT di antaranya adalah kunjungan ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Gunung Sari, penyerahan kunci kepada transmigran, pembagian sertipikat, pemeriksaan kesehatan gratis, pameran Balatmas, penyerahan bantuan, dan kegiatan pasar murah.

Model transmigrasi yang dilakukan pemerintah Republik Indonesia untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa terinspirasi oleh Pemerintahan Hindia Belanda pada zaman penjajahan dulu. Pada November 1905, kolonisasi berhasil memindahkan 155 kepala keluarga (KK) dari Jawa ke Lampung Selatan. Saat itu, tujuan perpindahan adalah untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di perkebunan yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial.

Saat Indonesia merdeka, jumlah penduduk di seluruh Indonesia mencapai 75 juta jiwa, 60 juta jiwa di antaranya tinggal di Pulau Jawa. Sementara Republik yang baru saja merdeka harus mempertahankan wilayahnya dari musuh yang hendak kembali menguasai. Luasnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan perimbangan jumlah penduduk yang tidak merata mendorong pemerintah untuk memindahkan penduduk ke pulau-pulau besar yang masih jarang dihuni. Program ini kemudian dikenal dengan sebutan Program Transmigrasi.

Desember tanggal 12 tahun 1950, pemerintah RI untuk kali pertama setelah merdeka, memindahkan sebanyak 23 KK ke Lampung dan ke Lubuk Linggau sebanyak 2 KK. Saat itu jumlah keseluruhan KK yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 98 orang. Dari sinilah HBT bermula.

Istilah transmigrasi diperkenalkan oleh Proklamator RI Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Soekarno saat itu memperkenalkannya lewat tulisannya di Harian Soeloeh Indonesia. Sedangkan Hatta pada Konferensi Ekonomi di Kaliurang, Yogyakarta, 3 Februari 1946 menyebutkan pentingnya transmigrasi untuk mendukung pembangunan industrialisasi di luar Jawa.

Namun, keberhasilan transmigrasi menyisakan kisah duka yang terus menjadi pengingat kepedihan dan pengorbanan para pejuang transmigrasi hingga kini. Makam Pionir Pembangunan Transmigrasi di Desa Sukra, Indramayu menjadi tanda perjuangan pembangunan transmigrasi di Indonesia. Pada 11 Maret 1974, 67 pionir transmigran asal Boyolali, Jawa Tengah, yang hendak menuju unit permukiman transmigrasi (UPT) Rumbiya, Sumatera Selatan, meninggal dunia. Bus yang mereka tumpangi saat itu tergelincir, kemudian masuk dan terbakar di Kali Sewo di Desa Sukra, Indramayu, Jawa Barat.

Musibah yang terjadi pada pukul 04.30 dini hari tersebut, terjadi pada salah satu bus dari enam kendaraan bus yang akan berangkat, dari musibah itu mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 67 orang yang terdiri atas orang dewasa dan anak-anak. Di antara rombongan yang mengalami musibah, terdapat tiga anak-anak yang selamat. Ketiganya kemudian diangkat sebagai anak angkat keluarga besar transmigrasi mereka adalah Jaelani, Suyanto, dan Sangidu.

Untuk mengenang peristiwa itu, dibangunlah Makam Pionir Pembangunan Transmigrasi di Desa Sukra, Indramayu. Jika kawan kawan kawan mampir di pemakaman tersebut, ada  tugu  yang bertuliskan ” Jer Basuki Mawa Bea ” dan ada kuburan berjejer rapih  lain dari kuburan pada umumnya, itu adalah tugu untuk mengenang kejadian 11 Maret 1974. Di setiap peringatan Hari Bhakti Transmigrasi (HBT) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDTT) melakukan ziarah ke Makam Pionir itu.(*)