Trans-Science Technopark Branding Baru Trasnmigrasi Masa Depan

Kawasan Transmigrasi Mutiara, Kabupaten Muna direncanakan menjadi pilot project pengembangan model transpolitan, trans-science technopark. Hal tersebut disampaikan Direktur Perencanaan Pembangunan & Pengembangan Kawasan Transmigrasi (P3KT) Dr. R. Bambang Widyatmiko, S.Si., MT. “Ini akan menjadi branding baru transmigrasi masa depan di era industri 4.0,” katanya.

Branding baru transmigrasi 4.0 adalah dalam rangka mengikuti era indsutri 4.0. Hal tersebut tercantum dalam deklarasi Bulaksumur dengan ide Trans-Science Technopark untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada Oktober 2019 lalu tim penyusunan perencanaan pengembangan masyarakat yang dipimpin oleh Kasubdit Perencanaan Pengembangan Masyarakat Dr. Ramli, SPd., M.Pd. telah melakukan kegiatan turun lapang di lokasi Transmigrasi SKP A, Kawasan Mutiara, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tujuan penyusunan rencana pengembangan masyarakat transmigrasi ini adalah untuk menyusun rencana kegiatan pengembangan SKP A Mutiara yang meliputi: 1) rencana pengembangan kegiatan bidang ekonomi; 2) rencana pengembangan kegiatan bidang sosial budaya dan mental spiritual; 3) rencana pengembangan kegiatan bidang kelembagaan pemerintahan, 4) rencana pengembangan kegiatan bidang sumberdaya alam dan lingkungan, serta 4) rencana pengembangan kegiatan bidang sarana prasarana dalam satu kesatuan untuk mencapai sasaran dan tujuan transmigrasi.

Potensi pengembangan masyarakat transmigrasi di SKP A Mutiara meliputi; a) lahan usaha yang tergolong subur, b) terdapat komoditas unggulan yang telah dikembangkan selama ini (jagung dan padi), c) terdapat sumber mata air dengan debit yang cukup besar, d) preferensi sosial ekonomi masyarakat adalah bertani/berkebun, e) lokasi transmigrasi dekat dengan ibukota kabupaten, f) telah tersedianya kelembagaan pemerintahan dan kelembagaan masyarakat (Kelompok Tani, PKK, Majelis Ta’lim, Karang taruna), dan g) pangsa pasar produk relatif mudah (di Ibukota Kabupaten dan Ibukota Provinsi).

Terdapat kendala atau masalah yang dihadapi dalam pengembangan masyarakat transmigrasi di SKP A Mutiara, di antaranya; a)  Keberadaannya tenaga medis jarang dan sulit dijumpai, b) keterbatasan sarana kesehatan (tidak adanya rawat inap) dan terbatasnya obat-obatan, c) keterbatasan sarana pendidikan khususnya buku pelajaran dan alat peraga, d) terbatasnya tenaga guru, e) akses jalan yang masih tanah sehingga licin dan berlumpur ketika musim hujan, f) terbatasnya jaringan seluler (signal), g) keterbatasan air bersih dikarenakan jaringan distribusi yang belum tersedia dan belum berfungsinya embung, h) terbatasnya energi listrik dikarenakan belum adanya jaringan PLN, i) terbatas pasar dan pemasaran produk, dan j) terdapat hama tanaman yakni jenis babi dan monyet.

Kebutuhan dalam pengembangan masyarakat transmigrasi di SKP A Mutiara, meliputi; a) Kebutuhan layanan kesehatan yang memadai (penyediaan layanan rawat inap) serta dilengkapi dengan obat-obatan serta tenaga medis yang standby (terjadwal), b) Kebutuhan layanan pendidikan wajib belajar 9 tahun (ketersediaan guru, buku pelajaran dan alat peraga bagi siswa SD-SMP), c) Akses pasar dan pemasaran produk pertanian, d) Perbaikan jalan (aksesibilitas), e) Ketersediaan bibit padi & pupuk subsidi, f) Kejelasan lahan usaha pada beberapa KK khususnya pada TPA, g) Pemenuhan kebutuhan air bersih dan air pengairan ketika musim kemarau untuk penyiraman tanaman, h) Perbaikan layanan telekomunikasi (pemasangan BTS), i) Pemenuhan kebutuhan listrik dengan pemasangan jaringan listrik PLN, j) Penetapan komoditi unggulan (jagung dan padi), k) Ketersediaan teknologi pertanian/perkebunan untuk pengolahan lahan, l) Peningkatan peran kelompok masyarakat (kelompok tani, PKK dan karang taruna), dan m) Penanganan hama dan penyakit tanaman.

Adapun status keberlanjutan pengembangan masyarakat transmigrasi SKP A Mutiara adalah tergolong kurang berlanjut (44,01%) meliputi; aspek ekonomi (10,57%), aspek sosial budaya dan mental spritual (62,58%), aspek sumberdaya alam dan lingkungan (63,48%), aspek kelembagaan dan pemerintahan (50,26%) dan aspek sarana prasarana (33,17%).

Atribut pengungkit keberlanjutan pengembangan masyarakat transmigrasi SKP A Mutiara, meliputi; a) Pencapaian kesepakatan pemilihan komoditas unggulan SKP A Mutiara, b) Potensi konflik, c) Faktor keamanan, d) Hubungan antara warga, e) Peningkatan kebersamaan melalui seni budaya, f) Masalah hama dan penyakit tanaman, g) Hubungan antara organisasi OPD/SKPD dengan pemerintah desa, h) Kebijakan dan kelembagaan tingkat desa, i) Jaringan telekomunikasi, j) air bersih dan pengairan tanaman, k) Sarana pendidikan non-formal, dan l) Sarana pendidikan formal.

Prioritas rencana program meliputi; a) program pelibatan masyarakat UMKM dalam pengembangan komoditas unggulan, b) program perencanaan dan peraturan pelayanan pendidikan, kesehatan dan keluarga berencana, c) program pemanfaatan kesuburan lahan melalui sistem tumpang sari, d) program kebijakan pemerintah pusat dan daerah  untuk pengelolaan ekonomi kawasan berbasis produk unggulan (klaster), dan e) program pembangunan jalan aspal beton menuju kawasan transmigrasi. (*)